#SENOPATI Love For Sale 2: Mari Berhenti Menyalahkan Arini!

Love For Sale 2 (2019) | Director: Andibachtiar Yusuf | Writers: Mohammad Irfan Ramly,  Andibachtiar Yusuf | Della Dartyan, Adipati Dolken, Ratna Riantiarno | 92 min

Setahun setelah film Love For Sale garapan Andi Bachtiar Yusuf dirilis, Visinema Pictures kembali merilis film sekuelnya dengan judul Love For Sale 2 di tahun 2019. Cukup kaget sebenarnya mendengar bahwa film Love For Sale akan dibuat sekuelnya pada awal tahun 2019 lalu.

Ketika menonton film Love For Sale untuk pertama kalinya, saya merasa kalau film ini memang cukup sampai di situ saja. Tapi, hal itu menjadi berbeda ketika saya menonton untuk kedua kalinya. Saya penasaran bagaimana perjalanan Arini (Della Dartyan) setelah ia menyelesaikan pekerjaannya di aplikasi bernama Love, Inc.

Film Love For Sale 2 jelas sangat berbeda dengan Love For Sale. Bercerita tentang Indra “Ican” Tauhid (Adipati Dolken) yang dikejar-kejar pertanyaan “kapan menikah” oleh lingkungan dekatnya, terutama Ibunya, Rosmaida (Ratna Riantiarno). Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Ican lelah. Hingga satu titik, di mana tetangga depan paviliun Ican meninggal. Ibu Rosmaidah benar-benar meminta Ican untuk memiliki pasangan dan bahkan menikah.

Kejadian itu yang membuat Ican bertemu dengan aplikasi Love, Inc dan segera menggunakannya. Kemudian datanglah, Arini Chaniago, sang penebar kebahagiaan.

Arini di Love For Sale 2 lebih terasa kehadirannya. Berbeda dengan di Love For Sale, Arini seperti boneka yang bergerak. Berjalan tanpa kita ketahui sosoknya seperti apa. Kali ini, Arini seperti layaknya manusia pada umumnya. Di samping menjalankan pekerjaannya, ia juga memiliki kehidupan. Hal itu bisa dilihat ketika Arini sedang berada di kamarnya dan melihat foto-foto keluarganya melalui telepon genggamnya.

Kalau saya ditanya lebih suka mana antara Love For Sale dan Love For Sale 2, tentu saya akan menjawab yang kedua. Di Love For Sale 2 terlihat sekali Indonesianya. Pemilihan lokasi lah yang menjadi alasannya. Di film ini, saya seperti penduduk bahkan tetangga dekat Bu Rosmaida dan paviliun Ican, yang nongkrong melihat kehidupan Ican sekeluarga. Suasana perumahan yang sempit dan bagaimana interaksi masyarakatnya dapat ditemui dalam film ini. Adalah adegan di mana tetangga depan paviliun Ican yang meninggal. Lalu, kerumunan warga langsung menghampiri rumah yang sedang berduka.

Selain itu adalah tentang Arini. Di Twitter, masih banyak warganet yang menyalahkan Arini karena meninggalkan Richard (Gading Marteen) di Love For Sale. Bagaimana bisa kita menyalahkan orang yang menjalankan pekerjaannya secara profesional? Itu merupakan hal yang aneh. Arini datang pada Richard untuk sebuah pekerjaan.

Meski begitu, itu adalah respon pertama saya ketika menonton Love For Sale. Setelah menonton untuk kedua kalinya, saya menjadi paham mengapa Arini pergi meninggalkan Richard. Jawabannya adalah tuntutan pekerjaan. Dan itu merupakan hal yang normal. Tidak ada yang aneh.

Kejadian serupa juga terjadi di Love For Sale 2. Kita sebagai penonton bahkan sudah tahu di ujung film yang terjadi adalah Arini akan meninggalkan Ican. Bedanya, Arini menjelaskan hal itu ketika ia bersama Ican sedang duduk-duduk di daerah Sudirman dan ketika mereka berada di rumah saat Ibu Rosmaida pergi.

Ketika mereka duduk santai di trotoar Sudirman, Ican mengucapkan rasa sayangnya pada Arini. Lalu Arini menjawab “Kalau kamu sayang sama aku, ngga ada alasan buat aku membalasnya kan.” Kemudian ketika mereka berdua sedang berciuman di rumah Ibu Rosmaida. Arini pun sudah pelan-pelan mengingatkan Ican mengenai kepergiannya kelak.

Bila di Love For Sale, yang menjadi fokus adalah Richard dan Arini, hal itu berbeda dengan Love For Sale 2. Bagi saya, Love For Sale 2 adalah tentang Ibu Rosmaida dan Ican. Tentang keluarga. Kredit lebih dan tepuk tangan harus diberikan sebanyak-banyaknya pada Ratna Riantiarno. Karakter ibu-ibu yang ngeselin bisa diperankan dengan baik olehnya. Satu lagi yang menurut saya karakternya menonjol. Adalah Daeng Ibrahim yang diperankan Yayan Unru. Entah kenapa, saya merasa dekat dengan karakter tersebut.

Mengenai visual dalam film ini agaknya perlu diapresiasi dengan layak. Ciri khas yang ada di Love For Sale kembali ada di film sekuelnya. Nuansa lampu neon dapat kita nikmati di rumah Ibu Rosmaidah dan workshop jahitan Daen Ibrahim. Sangat memanjakan mata.

Beberapa hal di atas semoga menjadi dorongan bagi kalian yang belum menonton Love For Sale 2, dan segeralah menonton. Oh iya, tonton hingga credit title-nya turun. Mungkin jadi clue kalau (mungkin) ada Love For Sale 3. Ya, ditunggu saja~

Penulis: Arvin Nugroho

Penyunting: Della Meydi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *