#SENOPATI Jaka Sembung : Sang Penakluk, Absurd tapi Seru!

Jaka Sembung : Sang Penakluk (1981) | Director: Sisworo Gautama | Screenwriter: Imam Tantowi| Cast: Barry Prima, Dicky Zulkarnaen, W.D Mochtar, Eva Arnaz | 91 min

Tahun 1980-an adalah masa kejayaan bagi film-film eksploitasi di Indonesia. Dalam periode tersebut banyak bermunculan film-film  Indonesia yang mengandung tema kekerasan, sex, dan juga horror. Film-film eksploitasi di Indonesia ini juga biasanya didominasi oleh cerita yang absurd (tidak jelas) dan didalamnya berisikan adegan kekerasan yang banjir dengan darah, adegan yang mengarah ke pada seksualitas, hingga dakwah agama secara terselubung.

Puluhan tahun kemudian film-film yang bagi sebagian orang dianggap sebagai film buruk dan tontonan masyarakat kelas bawah ini menyandang status “cult” dan menjadi incaran banyak orang. Bukan hanya dari Indonesia saja, tapi juga dari luar negeri. Salah satunya adalah distributor yang terkenal suka mendistribusikan film-film kelas B yaitu “Mondo Macabro”.

Dari sekian banyak film eksploitasi Indonesia yang pernah saya tonton, salah satu film favorit saya adalah Jaka Sembung : Sang Penakluk. Jaka Sembung : Sang Penakluk adalah salah satu film laga yang disutradarai oleh “Godfather” film eksploitasi Indonesia yaitu, Sisworo Gautama Putra. Dirilis pada tahun 1981, film yang terinsipirasi dari cerita silat karya komikus Djair Warni ini bercerita tentang seseorang bernama Parmin atau biasa dikenal sebagai Jaka Sembung (Barry Prima),  seorang jawara yang berasal dari Desa Kandanghaur. Jaka Sembung menjadi musuh bagi pemerintahan kolonial Hindia Belanda karena dianggap merampok. Karena sulitnya Jaka Sembung untuk ditangkap, akhirnya komandan dari pemerintahan Hindia Belanda (Dicky Zulkarnaen) mengadakan sayembara bagi para jawara lainnya untuk mengalahkan Jaka Sembung.

Kalau kita lihat secara umum, Jaka Sembung ini adalah film yang cukup buruk. Cerita yang klise dan banyak plot-hole dimana-mana, dialog yang buruk, akting dari aktor dan aktris yang terasa amatiran, hingga teknis yang terkesan biasa saja. Tapi di balik kekurangan yang ada dari film ini, justru Jaka Sembung menjadi tontonan yang asyik. Bukan karena aspek film yang sudah disebutkan di atas, tapi keabsurdannya yang menjadi daya tarik dari film ini.

Entah apa yang merasuki diri saya, saat melihat keabsurdan film ini adalah sebuah kepuasan tersendiri. Belum pernah saya menonton film laga Indonesia seasyik seperti saat menonton Jaka Sembung. Adegan demi adegan yang ditampilkan pun terasa ajaib. Kadang- kadang membuat saya tercengang dan juga sesekali tertawa. Contohnya adalah saat Jaka Sembung disihir menjadi babi hutan oleh Ki Item dan juga donor mata yang dilakukan oleh Surti (Eva Arnaz), kekasih dari Jaka Sembung. Adegan tersebut cukup membuat mind blowing karena saya tidak menduga akan seperti itu pada akhirnya.

Selain itu, sajian adegan laga di sini juga cukup berani, mungkin lebih berani dari pada The Raid karya Gareth Evans. Perkelahian antara Ki Item dengan Jaka Sembung adalah adegan perkelahian favorit saya dalam film ini. Selain karena ini adalah adegan pamungkas, perkelahian ini mempunyai level keseruan yang sangat tinggi dibanding perkelahian lain yang ditampilkan di film Jaka Sembung. Mulai dari pertarungan di udara, lalu darah yang muncrat ke mana-mana, sampai anggota tubuh yang terbelah, menjadi menu dalam adegan perkelahian sengit ini. Karena adegan perkelahiannya yang sangat seru setelah menonton saya jadi berpikir, mungkin saat itu Sisworo Gautama tidak mementingkan ceritanya, asal adegan perkelahiannya seru pasti penonton akan suka. Dan menurut saya Sisworo berhasil, karena saya sangat suka dengan adegan perkelahian yang disajikan oleh film Jaka Sembung : Sang Pendekar.

Untuk menikmati film Jaka Sembung memang tidak usah dibawa serius. Cukup nikmati dan ikuti saja apa yang disajikan oleh sang sutradara. Bagi sebagian orang mungkin akan berkata “naon sih?” tapi senggaknya buat saya Jaka Sembung adalah film laga yang seru pake banget. Sekali lagi, bagi saya ini adalah harta karun sinema Indonesia. Kalau diibaratkan, Jaka Sembung itu adalah Lewat Djam Malam versi film kelas B. Masterpiece

Penulis: Faizal Agusdin

Penyunting: Melati Febriani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *