#SENOPATI The Little Prince: Belajar Tentang Hidup dari Si Pangeran Kecil

The Little Prince (2016) | Director: Mark Osborne | Writer: Irena Brignull | Cast: Jeff Bridges, Mackenzie Foy, Rachel McAdams | 108 Min

The Little Prince adalah buku anak klasik yang ditulis oleh Antoine de Saint-Exupéry di tahun 1943. Buku ini sangat mendunia dan sudah ditulis dalam lebih dari 200 bahasa. Perancis adalah bahasa asli dalam buku ini. Le Petit Prince dilengkapi dengan ilustrasi yang fenomenal dan iconic sehingga anak bisa memahami dan menyukainya lebih dalam. Buku ini memiliki makna yang dalam bahkan orang dewasa bisa nyambung dengan kehidupan dewasa yang pelik ini.

Mark Osborne yang dulu pernah menjadi sutradar Kung Fu Panda (2008) dan Monster Vs Alien (2009) menggarap film ini dengan tanggung jawab yang berat. Adaptasi dari sebuah buku merupakan tantangan yang besar, apalagi jika buku tersebut adalah sebuah literatur yang disegani oleh masyarakat dari generasi ke generasi. The Little Prince sudah digarap sejak tahun 2010 dan M6 serta Onyx film menjadi perusahaan produksinya. Film animasi yang diproduksi oleh M6 dan Onyx film ini sangat menarik karena menggunakan dua gaya animasi yang berbeda.

Bercerita tentang seorang anak perempuan (Mackenzie Foy) yang sedang mengejar “mimpi”nya untuk masuk ke sekolah yang dinilai “paling baik”. Dia pun sudah berlatih untuk proses wawancara yang harus dilaluinya, namun satu perubahan membuat anak perempuan tersebut gagal untuk mencapai mimpinya. Kegagalan ini membuat Ibunya (Rachel McAdams), frustasi sehingga ia mengatur jadwal selama musim panas untuk putrinya. Bahkan sang ibu rela pindah rumah agar putrinya dapat belajar secara maksimal. Siapa yang sangka lagi-lagi satu perubahan dapat merubah segalanya.

Untuk menceritakan kisah antara anak dan ibunya ini, Mark Osborne menggunakan gaya animasi 3D yang biasa ditemukan pada film animasi lainnya seperti Kung Fu Panda atau The Incredibles. Gaya animasi CGI ini digunakan untuk menggambarkan realitas yang terjadi pada The Little Girl. Siapa yang sangka ketika mereka pindah rumah mereka harus bertetangga dengan seorang pilot tua (Jeff Bridges) yang menulis tentang bagaimana ia bertemu The Little Prince. Rumah sang pilot ini sangat berwarna tidak seperti rumah lain di sekitarnya yang didominasi oleh abu-abu. Perbedaan ini sangat mencolok, kebanyakan seseorang ingin hidup biasa-biasa saja dan terencana, sang pilot menolak akan hal itu dan memilih hidup yang menyenangkan dan berbeda. Hal itu membuat The Little Girl semakin penasaran.

Memberanikan diri untuk mendatangi The Pilot, ia mendapatkan cerita yang sangat menarik dan berbeda dari hidup dia sebelumnya yang sudah direncakan dan sudah pasti. Sang Pilot benar-benar membuat hidup The Little Girl lebih berwarna. Sang pilot juga adalah orang yang menulis tentang “The Little Prince” dan bagaimana ia mengubah hidup sang pilot. Ditulis di atas kertas satu per satu, yang membuat para penonton bernostalgia dengan buku yang mungkin sudah dibaca dari kecil. The Little Girl sempat skeptis dan menolak, karena sang pilot dinilai buruk oleh orang lain, tetapi ketika ia sudah kenal lebih dalam, hidup The Little Girl pun berubah menjadi lebih ceria. Bahkan mereka sudah mengganggap teman satu sama lain dan The Little Girl rela berbohong kepada ibunya agar tetap berteman dengan Sang Pilot.

Untuk menceritakan kisah The Little Prince (Riley Osborne), sutradara menggunakan gaya animasi stop-motion. Hal ini sangat berkarakter mengingatkan kita terhadap salah satu film animasi yang berjudul Caroline. Gaya ini menggambarkan secara jelas tentang fantasi dan apa yang ada di kepala The Little Girl yang menunjukkan kepada penonton betapa magisnya cerita The Little Prince.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, mengadaptasi dari sebuah buku merupakan tanggung jawab yang besar. Kemampuan sutradara dan penulis sangat dibutuhkan untuk memilih mana bagian yang harus dibuang dan mana yang harus digunakan. Mark Osborne berhasil memaksimalkan ini. Memberikan ciri khas beliau tanpa menghilangkan esensi dari buku itu sendiri. Cerita tentang The Little Girl adalah tambahan salah satunya. Memang memiliki porsi yang besar tetapi perannya sangat menggambarkan dengan apa yang dirasakan oleh penonton. Hal ini membuat penonton merasa relate dan berempati terhadap The Little girl.

Bagian akhir dari film ini juga merupakan sesuatu kekuatan. Di mana pada akhirnya The Little Girl mencoba bertemu dengan The Little Prince. Menunjukan realitas sebenarnya dan mencoba kembali kepada fantasi dan mimpi yang seharusnya. The Little Prince dan semua tokoh di dalamnya digambarkan dengan CGI. Menyatakan semua hal yang ada di fantasi pun bisa menjadi realitas.

Hans Zimmer dipilih untuk membuat soundtrack untuk film ini. Sebuah pilihan yang sangat tepat, karena selama menonton film ini kita merasa dibawa kembali kepada buku The Little Prince, kembali menjadi anak kecil, dan menikmati film tersebut layaknya orang dewasa. Suis-Moi adalah soundtrack unggulan dalam film ini dan lagu tersebut berhasil membawa penonton untuk terbang ke dunia fantasi yang diciptakan.

Walaupun mendapatkan banyak penghargaan, film ini tidak mendapatkan perhatian yang banyak di Indonesia. The Little Prince sangat cocok ditonton di akhir minggu untuk melupakan realitas sejenak serta kita bisa mendapatkan nilai dari buku tersebut. Di akhir tulisan ini saya ingin mengutip kalimat luar biasa yang sering diucapkan oleh sang Pilot.

“Growing up isn’t the problem.. forgetting is.”

Penulis: Quraish Setyaki

Penyunting: Melati Febriani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *