#SENOPATI Ratu Ilmu Hitam: Teror Penuh Dendam

Ratu Ilmu Hitam (2019) | Director: Kimo Stamboel | Writer: Joko Anwar | Cast: Ario Bayu, Hannah Al Rashid, Muzakki Ramdhan | 99 min

Percakapan ringan sebuah keluarga di dalam mobil yang diiringi alunan “Suar” milik Polka Wars, membuka film Ratu Ilmu Hitam dengan tenang namun mencurigakan. Mobil yang dikendarai oleh Hanif (Ario Bayu) tersebut melaju di jalan seadanya di tengah hutan, yang kemudian tidak sengaja menabrak sesuatu. Rasanya kita sudah tidak asing lagi dengan scene klise seperti ini, dan ketika mereka lihat yang ditabrak adalah seekor rusa, segera mengingatkan saya pada film Get Out–yang sama-sama menjadi pertanda dari awal kesialan.

Satu keluarga tersebut kemudian sampai pada panti asuhan tempat Hanif dibesarkan, yang kemudian disusul dua keluarga lainnya; Jefri (Miller Khan) dan istrinya, serta Anton (Tanta Ginting) dan istrinya, yang merupakan sahabat Hanif sejak dulu di panti. Kedatangannya bukan tanpa alasan. Pakaian mereka yang masih menggunakan baju kantoran cukup menjelaskan bahwa mereka memang harus pergi ke sana saat itu karena ingin menjenguk Pak Bandi, pemilik panti yang sedang sakit keras.

Ratu Ilmu Hitam ini merupakan film yang terinspirasi dari judul yang sama pada tahun 1981–yang saya mohon maaf–belum menontonnya. Namun yang jelas, karena film ini bukan remake, tentu akan berbeda dengan versi yang lama. Dari berbagai media massa, saya ketahui bahwa film ini lebih mengangkat dari sisi korban dan tidak menjadikan Murni yang diperankan Putri Ayudya (atau Suzzanna dalam versi 1981) sebagai pusat perhatian. Sejujurnya, saya tidak niat menulis ketika selesai menonton filmnya, karena saya benar-benar cupu untuk urusan film horror. Tapi, entah kenapa saya seperti dihantui si “ratu”. Jadilah saya menulis ini.

Anyway, dari awal film dimulai, perhatian saya langsung tertuju pada Haqi yang diperankan dengan menggemaskan nan menawan oleh Muzakki Ramdhan. Karakternya pun terasa sangat kuat, dimana ia berperan dan berinteraksi layaknya orang dewasa, tanpa meninggalkan sisi kanak-kanaknya. Zara JKT48 yang berperan sebagai Dina atau kakak Haqi, juga cukup menarik perhatian seperti biasa, karena karakternya yang cukup berbeda dari film-film ia sebelumnya. Namun, peran Dina dan Sandi (Ari Irham) sebagai kedua kakak Haqi, sangat disayangkan. Menurut saya, mereka tak memiliki pengaruh besar dalam cerita di film.

Keadaan di panti sangatlah sepi, mereka disambut oleh dua penjaga panti yang entah kenapa sejak awal, saya merasa gerak-gerik mereka sungguh mencurigakan. Namun, ternyata kecurigaan saya tersebut dipatahkan. Dua anak panti yang tersisa; Hasbi (Giulio Parengkuan) dan Rani (Shenina Cinnamon) yang seharusnya patut dicurigai. Apalagi, ketika Rani foto-foto menggunakan kamera Polaroid. Panti asuhan di tengah hutan dan jauh darimana-mana seperti itu, dimana ia bisa mendapatkan isi filmnya?

Selama film berlangsung, kita akan ikut dibawa memahami cerita-cerita yang terjadi selama di panti asuhan dengan perlahan dan tidak buru-buru. Kita akan mengerti setiap karakter dan teror yang terjadi di sana-sini. Kemudian berujung pada akhir penjelasan: balas dendam. Seram, sih. Perkara dendam bisa membuat keadaan benar-benar chaos dan gila. Sepengetahuan saya, film Ratu Ilmu Hitam tahun 1981 pun bercerita tentang pembalasan dendam. Kenapa kita tidak mulai belajar untuk memaafkan? Atau kalau tidak bisa memaafkan, setidaknya belajar untuk merelakan?

Saya sendiri tidak tahu bagaimana ilmu hitam bekerja (dan tidak mau tahu juga), tapi yang tergambarkan dari film ini memang sungguh mengerikan. Kelabang, ulat bulu, sampai punggung Eva (Imelda Therinne) berubah jadi bolong-bolong, yang merupakan salah satu memorable scene, benar-benar membuat saya ingin nangis, padahal saya bukanlah trypophobia.

Salah satu adegan Lina (Salvita Decorte) mengingatkan saya pada film The ABCs of Death. Ia memotong-motong bagian tubuhnya dengan pisau buah agar terlihat kurus, dan ini juga benar-benar membuat badan saya ngilu. Padahal, dalam pandangan saya, ia sama sekali tidak gemuk! Namun dari Lina, kita bisa mendapatkan pelajaran untuk lebih mencintai diri sendiri.

Sebagai anak panti asuhan, Anton, sungguh disayangkan harus pergi dengan sangat cepat. Sementara, sampai akhir film, saya bertanya-tanya mengapa istri Hanif, Nadya (Hannah Al Rashid) merupakan orang yang paling beruntung di antara yang lain. Ia tidak terkena kutukan-kutukan ilmu hitam dan merupakan satu-satunya orang yang memiliki kesempatan untuk chit chat dengan si pemilik ilmu hitam, Murni. Kemudian bagaimana Murni akhirnya dikalahkan juga terjadi begitu kilat. Penonton tidak diberikan waktu lebih untuk menyaksikan kemurkaannya sampai level maksimal. Namun, bagaimana pun, lagu “Santai” milik NonaRia sebagai salah satu soundtrack Ratu Ilmu Hitam sama sekali tidak akan membuat kita santai s­ampai akhir film.

Penulis: Della Meydi

Penyunting: Quraish Setyaki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *