#SENOPATI Banda The Forgotten Trail: Dokumenter yang Memanjakan Mata

Mungkin dari kita tidak asing mendengar kata ‘Banda’ yang sontak teringat band duo Ananda Badudu dan Rara Sekar yang pada 2016 akhir memutuskan bubar, Banda Neira. Sedih, memang. Tapi, film ini bukanlah film yang menceritakan tentang bubarnya Banda Neira. Bukan. Apalagi, kompilasi lagu-lagu Banda Neira, tentu bukan. Mungkin dari kita tidak asing mendengar kata ‘Banda’ yang sontak teringat band duo Ananda Badudu dan Rara Sekar yang pada 2016 akhir memutuskan bubar, Banda Neira. Sedih, memang. Tapi, film ini bukanlah film yang menceritakan tentang bubarnya Banda Neira. Bukan. Apalagi, kompilasi lagu-lagu Banda Neira, tentu bukan.

Film Banda The Dark Forgotten Trail ini disutradarai oleh Jay Subyakto dan ditulis oleh Irfan “Ipank” Ramli. Film yang ber-genre dokumenter ini diproduseri oleh Abduh Azis dan Sheila Timothy, yang juga memproduseri film “Wiro Sableng 212”. Nggak ketinggalan, Reza Rahardian dan Ario Bayu juga terlibat di film ini, yaitu sebagai narator. Awalnya, saya kira Reza Rahardian bermain sebagai pemeran utama dalam film ini, untungnya hanya sebagai narator saja.

Menurut saya, film ini kerennya nggak ketolongan. Pengambilan gambarnya itu lho,menakjubkan! Oh iya, Jay Subyakto ini dikenal sebagai seorang sutradara untuk video klip. Video klip “Pergilah Kasih”, lagu yang dinyanyikan alm. Chrisye, merupakan garapannya yang berhasil menembus MTV Asia untuk pertama kalinya dari Indonesia.

Mungkin karena dia sering menggarap video klip, film ini kental banget dengan aroma video klipnya. Pengambilan dan transisi gambarnya itu pas banget, terutama untuk detail-detailnya. Bayangin aja, film dokumenter dengan sentuhan video klip. Sangat memukau dan memanjakan mata dan yang paling penting, nggak bikin bosen.

Masuk ke dalam cerita. Secara keseluruhan, film ini menceritakan tentang sejarah Pulau Banda yang mulai terlupakan banyak orang. Padahal, di masa lampau, Pulau Banda ini merupakan pusat perdagangan rempah-rempah dan penghasil buah Pala. Di masa lampau, Pala sendiri merupakan hal yang sangat berharga, bahkan lebih dari emas. Nggak heran kalo ada banyak bangsa datang ke Pulau Banda untuk menguasainya. Dari situlah terjadi banyak konflik dan pemberontakan.

Keterlibatan Ipank sebagai penulis naskah tentu menjadi hal yang cukup menarik untuk dibahas. Kehadirannya merupakan salah satu alasan mengapa film ini terasa begitu menyenangkan. Cerita yang diangkat dalam film ini cukup berat dan memusingkan karena mengandung kedalaman sejarah. Tapi, berkat sentuhan Ipank, treatment yang ia terapkan membuat cerita ini tidak terasa berat.

Alur di film ini pun bergerak maju dengan sangat rapi. Sangat tertata. Mulai dari sejarah Pulau Banda hingga masuk ke konflik sangatlah baik. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu tergesa-gesa. Hal itu sangat penting karena mempengaruhi ketertarikan penonton agar tetap mengikuti cerita yang ingin disampaikan. Hal tersebut tidak mudah, apalagi film ini adalah film dokumenter. Namun, Jay Subyakto berhasil meracik film ini dengan sentuhan visual yang mengagumkan serta cerita yang bagus sehingga penonton tetap dapat mengikuti cerita hingga akhir.

Penulis: Arvin Nugroho

Penyunting: Della Meydi Pertiwi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *