Last Night I Saw You Smiling: Kisah Pilu yang Tak Boleh Terulang

Film Last Night I Saw You Smiling merupakan film pertama yang saya tonton ketika di Jogja Asian-Netpac Film Festival (JAFF) 2019. Film yang disutradarai oleh Kavich Neang ini adalah satu-satunya film dokumenter yang masuk dalam kategori Golden & Silver Hanoman Awards JAFF 2019. Kategori tersebut merupakan kategori yang tertinggi pada JAFF.

Film yang rilis pada tahun 2019 ini bercerita soal penggusuran warga rumah susun White Building di Phnom Penh, Kamboja. Kavich sebagai sutradara merekam tiga keluarga yang merupakan korban penggusuran sebagai inti cerita film. Dan uniknya, ayah dari Kavich termasuk di antara 493 warga yang digusur.

Cerita dimulai ketika rencana pengusaha Perancis ingin membeli tanah dari White Building. Usaha pembelian itu dibantu oleh pemerintah Kamboja agar berjalan dengan lancar. Dari situlah, proses penggusuran dimulai.

Sebenarnya, film dokumenter bertema penggusuran bukanlah sesuatu yang jarang di dunia perdokumenteran. Tak perlu jauh-jauh, Watchdoc Documentary, media alternatif di Indonesia pun pernah membuat tema serupa, Jakarta Unfair. Tapi yang menjadi film ini layak ditonton adalah bagaimana Kavich menyusun frame demi framenya seakan membentuk lukisan nan indah, tapi menyakitkan.

Ketika menonton film Last Night I Saw You Smiling, saya seperti bukan menonton film dokumenter yang identik dengan kamera yang banyak bergerak. Tapi, seperti menonton film fiksi. Di tangan Kavich, film ini banyak menggunakan still shot. Gaya yang dipakai oleh Kavich ini justru membuat orang yang menontonnya seperti merasa bersalah.

Saya merasa seperti ada di dalam White Building sebagai seorang warga. Perbedaannya adalah saya seperti anak emas dalam lingkungan itu karena tidak merasa tergusur. Saya seperti kembali ke masa sekolah ketika melihat teman-teman yang sedang dihukum oleh gurunya tanpa alasan yang kuat. Tetapi, tidak mencoba untuk berbuat sesuatu. Di film ini pun demikian, saya tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya berdecak sedih.

Sebenarnya, apabila warga yang digusur itu bukanlah seorang ayah dari Kavich, mungkin film akan terasa biasa saja. Kehadiran ayah dari Kavich lah yang membuat film ini justru semakin personal dan menyentuh.

Sinematografi film ini sejalan diikuti dengan penceritaan yang baik. Walaupun, beberapa teman yang bertemu dengan saya ketika pemutaran selesai berkata bahwa film ini serba tanggung. Seimbang bobot pemilihan isu yang diangkat, sehingga kurang fokus. Tapi, bagi saya Last Night I Saw You Smiling justru merupakan film dokumenter yang bagus.

Kavich berhasil menyuguhkan betapa sedih dan kehilangan warga-warga White Building. Kavich sejak awal memfokuskan sudut pandangnya terhadap hal itu dan saya melihat itu sebagai sesuatu yang baik. Apabila konflik penggusurannya diceritakan lebih banyak justru membuat film ini tidak terasa spesial. Pemilihan judulnya pun bila seperti itu akan terasa hambar.

Dan yang menjadi adegan favorit saya dalam film ini adalah ketika ayah Kavich sedang duduk untuk diwawancarai oleh Kavich. Saya bisa membayangkan bagaimana patah hati ayah Kavich ketika tahu bahwa rumahnya akan digusur. Belum lagi, uang kompensasi tidak turun sebelum mereka pindah tempat.

Last Night I Saw You Smiling adalah film pengingat bagi kita semua tentang arti kemanusiaan. Film ini menjadi keharusan bagi kita semua untuk menonton. Indonesia sendiri, beberapa tahun ke belakang banyak terjadi konflik agraria. Bahkan hingga memakan korban jiwa. Petani Kendeng, warga Kulon Progo Yogyakarta, warga Taman Sari Bandung, dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Saya rasa itu adalah alasan mengapa film ini masuk dalam kategori Golden & Silver Hanoman Awards JAFF 2019.

Penulis: Arvin Nugroho

Penyunting: Andyta Savira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *