Moviekom

Sudah 21 tahun Cinematography Club Fikom Unpad berdiri. Pada tanggal 29 – 31 April 2017, CC Fikom Unpad telah mengadakan Moviekom tahun keenam. Moviekom secara khusus merupakan sebuah wadah apresiasi film calon anggota CC. Moviekom berlangsung selama 3 hari, kegiatannya berupa pemutaran film anggota baru, pemutaran film eksternal, dan awarding night.

Tahun ini, Moviekom mengangkat tema “Apresiasi dalam Toleransi”. Toleransi sendiri berarti sikap toleran atau sikap menghargai pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Hal tersebut kami angkat berdasarkan kegelisahan kami terhadap konflik-konflik yang belakangan ini terjadi, yang dipicu oleh perbedaan yang ada seperti perbedaan agama dan suku. Melalui film yang merupakan sebuah karya sinematografi dan sebuah media penyampaian pesan, maka kami bertujuan mengajak para penonton untuk berpikir bersama mengenai permasalahan yang ada. Toleransi tidak hanya harus dikatakan tetapi juga harus dilakukan dengan tindakan.

Moviekom tahun ini memutarkan 10 film dari para anggotanya (khususnya calon anggota CC) dan 6 film komunitas lain. Meski ini adalah pertama kali calon anggota memproduksi film pendek, film-film yang dihadirkan memiliki jalan cerita yang unik dan kualitas produksi yang cukup bagus. Tidak heran jika setiap pemutaran, Bale Santika selalu penuh dengan pengunjung. Pengunjung yang hadir berasal dari berbagai kalangan, tidak hanya mahasiswa Unpad saja, tetapi terdapat juga anak SMA, alumni mahasiswa Unpad, dan mahasiwa luar lainnya. Pengunjung dikenai biaya sekitar 7 ribu hingga 25 ribu rupiah untuk semua sesi.

Di sesi pertama terdapat empat film yang diputar, yaitu “Jegal-jegalan”, “Soulmate”, “Naik ke Bawah”, dan “Dilema”. Kisah-kisah yang disajikan ringan, dan di akhir film pengunjung disajikan dengan pesan moral, baik implisit maupun eksplisit.

Sesi kedua, giliran “Tinggal Lep”, “Leungit Ka Tujuh” dan “Kembang Sepasang”. Ketiganya menceritakan bagaimana mitos-mitos yang beredar di masyarakat mendoktrin sehingga menjadi paradigma yang salah.

Pemutaran di sesi ketiga ditutup dengan film “Di Antara”, “Swastamita”, dan “Sebat”. Ketiga film ini juga memiliki jalan cerita yang unik, salah satunya Swastamita yang mengangkat cerita dari sebuah novel tentang negeri tanpa malam.

Selain pemutaran Film, ada pula diskusi film baik film CC maupun non CC. Salah satunya adalah film drama Indonesia berbahasa Tegal yang diproduksi oleh Fourcolours Film pada tahun 2016 ini berdurasi 83 menit berjudul “Turah”. Film ini menceritakan kehidupan masyarakat Kampung Tirang di Kota Tegal yang mengalami isolasi selama bertahun-tahun kemudian memunculkan berbagai problema. Di tahun 2016, film ini memenangi 3 kategori sekaligus; Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Fim Festival. Sedangkan kategori Asian Feature Film Special Mention diraih dalam Singapore International Film Festival.

Selain film “Turah” terdapat pula film komunitas yang lain, seperti “Fighting for Nothing”, “Balik Jakarta”, “Asmarandana” dan “Setetes Koin”. Terdapat pula film produksi holiday CC Fikom Unpad yaitu “Jirim”.

Dalam diskusi film dari komunitas lain, salah satunya yaitu ketika diskusi film “Balik Jakarta” yang menarik. Walaupun sutradaranya tidak dapat hadir, ia memberikan kesempatan waktunya untuk berdiskusi dengan pengunjung di Bale Santika dengan menggunakan Skype. Ini adalah bukti tanggung jawab sebagai film maker terhadap sebuah film yang diproduksinya.

Pada hari terakhir, acara yang digelar 29-31 Maret 2017 ini mengadakan “Awarding Night” bagi karya-karya calon anggota CC yang ditampilkan. Malam penghargaan ini khusus untuk internal CC Fikom Unpad, baik dari calon anggota hingg para Anggota Luar Biasa (ALB). ALB sebutan untuk para alumni CC Fikom Unpad yang telah meluangkan waktunya untuk CC.

Film-film karya calon anggota baru yang telah diberi penilaian oleh para juri terpilih akan memperoleh penghargaan. Penghargaan tersebut di antaranya: penata artistik terbaik, poster terbaik, penata suara terbaik, penata kamera terbaik, penyunting gambar terbaik, ide cerita terbaik, penulis skenario terbaik, tim produksi terbaik, sutradara terbaik, serta film terbaik.

Nama-nama penghargaan yang diterima oleh para calon anggota ini sangat unik, diambil dari tokoh-tokoh perfilman Indonesia yang melegenda. Misalnya saja penghargaan Teguh Karya sebagai penghargaa Divisi Penyutradaraan terbaik yang diraih oleh film Kembang Sepasang. Sementara penghargaan Christine Hakim untuk Pemeran Utama yang diberikan untuk Film Dilema.

 

Sampai jumpa di Moviekom 2018! 🙂

Berikut film-film produksi anggota CC 2016.